Tuesday, November 29, 2005

Cerita tentang Ambon: Untuk Nana di OZ

(Postingan ini untuk menjawab pertanyaan Nana Moore. Dari pada melalui milis, mending aku buat di blog ini, ya Na?)

Na, pengalaman ku tiga kali bolak-balik ke Ambon sungguh menyenangkan. Memang sih kota Ambon masih berantakan. Masih banyak gedung-gedung korban kerusuhan yang belum diperbaiki. Tapi selama ini kota Ambon menurutku aman-aman saja. Mungkin beberapa kali pernah di dengar ada bom yang meledak di beberapa tempat di kota Ambon. Tapi dari perkataan teman-teman ku di Ambon, mereka sudah gak ambil pusing. Mereka gak mau terpancing isu-isu seperti itu lagi. Mereka sudah capek dengan kerusuhan yang terjadi. Jadi walaupun ada beberapa hal yang seakan-akan memprovokasi, orang-orang Ambon umumnya tidak perduli lagi.

Kota Ambon BUKAN merupakan kota yang bersih atau teratur. Sampah dimana-mana. Got-got bukan lagi tempat air mengalir tetapi tempat sampah. Di sana tidak ada taksi. Cuma angkot, ojeg dan becak. Aku pernah naik becak sekali, ih serem banget. Ojeg sama becak gak ada bedanya sama mobil (atau tukang becak menganggap becaknya mobil kali?). Tukang becaknya nekat 'nyupir' di tengah jalan. Aku sampai sering menahan napas kalau terlalu dekat dengan mobil. Takut kesrempet.

Na, aku memang gak sempet jalan-jalan keluar dari kota Ambon karena alasan pekerjaan. Di kota Ambonnya sendiri gak ada pusat-pusat rekreasi atau turistik area. Paling-paling ke taman di mana ada patung Christina Martha Tiahahu. Tapi tamannya sudah tidak terurus. Banyak sapi dan terlebih lagi kotorannya. Aku pernah sekali ke pantai Natsepa. Tapi itu juga di luar kota Ambon. Pantainya relatif bersih. Daerah pariwisata di Maluku kebanyakan adalah daerah pantai dengan lautnya yang masih bersih. Atau pergi ke pulau-pulau lain yang banyak bertebaran di sekitar pulau Ambon.

Tapi, Na, sebenarnya yang menarik perhatian aku pribadi adalah orang-orang Ambon itu sendiri. Gak heran kenapa Ambon di sebut sebagai Ambon Manise. Orang Ambon memang manis-manis. Kulit mereka memang lebih gelap, tapi justru karena gelapnya maka mereka enak di lihat. Mungkin memang bawaan dari nenek moyang kali ya? Dan satu lagi kelebihan mereka, mereka pintar menyanyi.

Aku pernah masuk ke gereja Gepsultra waktu aku ke Kendari. Di sana jemaat nya menyanyi seperti kalau kita masuk ke HKBP, atau GKI jaman dulu alias menyanyinya lambat banget. Konon pemain organ harus menyesuaikan dengan jemaat. Tapi waktu aku bergereja di GPM, wah, asyik banget. Musik pengiringnya saja pake keyboard dan terompet. Pemandu pujiannya pintar menyanyi. Paduan suaranya walau gak pakai iringan musik, bisa menyanyi lagu Haleluya Handel dengan baik, gak pakai "turun" segala. Ada juga VG anak-anak SMP, suaranya jernih sekali. Pokoknya oke punya.

Satu hal yang menarik juga di Ambon adalah banyaknya gedung gereja. Banyak sekali keajaiban terjadi di kota Ambon pada waktu kerusuhan yang lalu, terlebih lagi keajaiban yang berhubungan dengan gereja. Tetapi mesjid juga banyak di mana-mana. Sungguh suatu hal yang menyedihkan bahwa kerukunan beragama yang sudah terjadi menjadi sebuah kerusuhan yang merusak.

Well, Na, segitu dulu cerita tentang Ambon. Aku sih berharap bisa juga jalan keluar dari kota Ambon dan pergi ke pulau-pulau yang lain. Ntar deh, kalau keinginanku terkabul, aku cerita-cerita lagi.

Salam.

1 Comments:

Anonymous Parker said...

wah wah mbaa.. hehehe...

tenkyu udah ngunjungin ambon...


Coba deh skrg datang lagi ke AMBON.. n Liad suatu perubahan besar dari tahun 2005 dan 2009 skrg,, heheheh

udaahh beda mbaa..

mhmhmh...

mengenai Ambon waktu nyanyi2 di gerejaaa.. yaa.. begitulah ambon mbaa.. org2nya udah diperbiasakan nyanyi dari keciL di gereja jadi yyahh gitu dehh.. hehhe

mhmmh... mau liad ambon sekarang mba ??? visit my BLOG...

www.parkercasio.co.nr

3:39 PM  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home